Melirik Usaha Nasgor “Galimang” di Sikabu-kabu

  • Whatsapp


Sederhana, Nikmat dan Murah

Limapuluh Kota, NNews– Setiap usaha memiliki peluang dan tantangannya masing-masing, bersungguh-sungguh dalam setiap usaha menjadi kata kuncinya. Begitulah yang ditekuni Iyet, pemilik warung di sudut Jorong Sikabu-kabu, Nagari Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padang Panjang, Kecamatan Luak. Seperti apakah?

Bacaan Lainnya

Majid Gindo–Sikabu-kabu

Pojok sederhana terbuat dari kayu di bagian samping rumah semi permanen, menjadi ruang seadanya untuk para pelanggan warung milik, Iyet dan suaminya, Alfidardi. Bangunan rumah permanen milik orang tuanya itu, disulap menjadi warung kopi yang sekaligus menyediakan makanan seperti mi rebus hingga nasi goreng.

Nasgor “Galimang”


Konsumen warung sederhana itu, terlihat cukup ramai usai magrib menjelang tengah malam. Seperti warung di sudut perkampungan di Limapuluh Kota pada umumnya, warung terbuat dari material kayu dengan meja dan bangku sederhana menjadi tempat berkumpul sejumlah warga.

Televisi layar datar berukuran cukup lebar, terpasang disalah satu sudut warung sebagai sarana hiburan bagi pengunjung warung yang biasa disebut “pajak” oleh masyarakat setempat. Bagi anak-anak muda biasanya warung menjadi tempat berkumpul bercanda, bersosialisasi sambil memainkan batu domino.

Sebagian lagi menikamti warung sambil mengakses informasi, atau menjelajahi dunia maya sembari ditemani secangkir minuman hangat atau dingin yang tersedia diwarung. Sebab diwarung ini juga dilengkapa Wi-fi sebagai sarana hiburan tambahan. Namun andalan warung Iyet ini, nasi goreng murah yang rasanya sangat pas dilidah dan yang terpenting itu, sangat pas dikantong untuk ukuran ekonomi masyarakat di nagari.

Dibanderol dengan harga hanya Rp 5 ribu untuk setiap porsinya, nasi putih diaduk dengan bumbu yang telah disediakan lebih awal. Sehingga penyajiannya tidak rumit dan tidak memakan waktu lama untuk setiap pesanan. Namun rasanya yang gurih, membuat nasgor buatan ibu tiga orang anak ini laris manis. Bahkan ada yang datang dari nagari tetangga untuk sekedar menikmatinya.

“Alhamdulillah, ada yang datang dari jorong tetangga. Bahkan ada juga pelanggan yang datang dari nagari tetangga. Biasanya saat tengah malam pembeli lebih banyak, terutama disaat Sabtu malam yang kebetulan juga sedang ada pasar tepat didekat warung kita ini,”ucap Iyet.

Memang setiap sabtu malam mulai dari sore hingga pukul 21.00 WIB, sejumlah pedagang dari berbagai daerah datang ketempat ini untuk berjualann. Sehingga jadilah pasar yang dimanfaatkan masyarakat untuk tempat mencari kebutuhan mingguan. Masih menggunakan pinggir jalan, namun ekonomi masyarakat berputar dikawasan pasar mini ini setiap pekan.

Keramaian itulah salah satu pendukung, ramainya warung Iyet, terutama disaat Sabtu malam. Meski enggan menyebutkan berapa omzet dari penjualannya setiap malam atau penghasilan rata-rata perbulan, namun kondisi ekonomi keluarga ini terlihat cukup baik.

Tidak hanya semata warung sumber ekonomi keluarga ini, sebab sang suami berprofesi sebagai driver dan ada usaha cucian juga menjadi penopang sumber ekonomi mereka,”Cucian saat ini sedikit terkendala, sebab kekurangan tenaga kerja,”ucap Iyet menambahkan.

Sementara komentar dari para pelanggan, membenarkan salah satu andalan untuk pengganjal perut jika sudah larut malam,”Memang nasi goreng, mie rebus atau mie goreng nasi atau yang biasa kami sebut Minas, menjadi pengganjal perut saat lapar menyerang tengah malam. Makan itu bisa didapatkan di warung Iyet yang biasanya bukan hingga pukul 00.30 WIB, setiap malamnya,”ucap Rudi Mc.(***)     

Pos terkait