Pekerjaan berat yang tak kunjung tuntas, Jorong Kototinggi Kubang Balambak, Nagari Simpang Kapuak, Kecamatan Mungka, Kabupaten Limapuluh Kota, tak bosan merengek. Meski hingga kini warga disana belum menikmati sejengkal aspalpun sebagai akses transportasi.

  • Pinggir Belantara Bukit Barisan
  • Belum Nikmati Sejengkal Aspalpun
  • Didera Harga Komoditi Pula
Foto : Ibu-ibu warga Kototinggi Kubang Balambak berjalan menyusuri jalan yang rusak menuju poskesri Kototinggi Kubang Balambak, Jumat(18/10) siang. 

Nagarinews.com–Limapuluh Kota

Berada di antara Utara dan Timur atau di Timur Laut  pusat pemerintahan Limapuluh Kota, Jorong Kototinggi Kubang Balambak, sebenar nya tak berjarak terlalu jauh dari pusat pemerintahan. Hanya saja sentuhan pembangunan dan perhatian pemerintah saja yang dirasakan masyarakat sangat jauh.

Buktinya daerah yang kawasan hutan rimbanya berbatasan lansung dengan Kecamatan Kapur IX, Kecamatan Pangkalan Koto Baru dan Kecamatan Bukik Barisan ini, belum pernah disentuh sejengkal aspalpun.  

Secara geografis, jika ditarik garis lurus dari kantor Bupati Limapuluh Kota di kawasan Ibu Kota Kabupaten, Sarilamak, Kecamatan Harau, hanya sekitar 10 hingga 12 kilometer saja dibelakang kantor Bupati Limapuluh Kota. Mirisnya, akses jalan menuju ke pemukiman penduduk di jorong Kototinggi Kubang Balambak, hanya jalan tanah yang dibuka seadanya.

Jangankan kendaraan roda empat, sepeda motor saja kesulitan menyusuri Kototinggi Kubang Balambak dari pusat pemerintahan Nagari Simpangkapuak, Kecamatan Mungka.

Sepertinya lebih cocok dikatakan tak layak ditempuh alias terisolasi, terutama saat musim hujan. Hanya melalui Nagari persiapan Huluaia satu-satunya jalan untuk bisa menuju Kototinggi Kubang Balambak menggunakan kendaraan roda empat.

Memang jumlah penduduk hanya sekitar 800 jiwa saja, namun potensi pertanian dengan lahan pertanian yang luas, kawasan Kototinggi Kubang Balambak layak dijadikan prioritas pembangunan. Tentu pertimbangannya bukan soal ekonomi saja, putra-putri generasi anak bangsa juga banyak terlahir dari daerah tersebut.

Baca juga :  Melirik Usaha Nasgor "Galimang" di Sikabu-kabu

Artinya tidak ada alasan untuk megenyampingkan kebutuhan pembangunan didaerah yang hingga kini masih terisolasi, akibat minimnya sentuhan pembangunan. Kebutuhan masyarakat terhadap akses trasnportasi sangat penting diperhatikan, jika betul-betul ingin mewujudkan pembangunan dari pinggir.  

“Beginilah kondisi jalan kita ke Kototinggi Kubang Balambak, bagaimana kendaraan roda empat bisa melewatinya,”ucap Kepala Jorong Kototinggi Kubang Balambak, Yori, saat membonceng pewarta NNews menggunakan motor Yamaha MX di tanjakan tajam menuju puncak bukit tempat jorong yang dipimpinnya, Jumat(18/10) akhir pekan ini.  

Cukup mengerikan, tanjakan ekstrim dengan lapisan jalan yang sudah dirabat beton yang mulai terkelupas pula, kerikil lepas mulai terlihat taklagi menyatu dengan badan jalan. Sementara di bagian kiri jalan merupakan jurang yang cukup dalam dengan ukuran jalan yang tak lebih dari dua meter hingga kebahu jalan.

Menanjak keperbukitan yang lebih cocok disebut jalan setapak itu, merupakan salah satu dari dua akses jalan menuju dan ke Kubang Balambak. Kedua jalan sebagai akses utama menuju Kototinggi Kubang Balambak dari kantor Walinagari Simpang Kapuak itu, sampir sama ekstrimnya.

“Kondisi jalan didalam pemukiman warga di Kototinggi Kubang Balambak tak kalah buruknya, hanya saja tak ada tanjakan dan turunan ekstrim seperti jalan menuju pusat pemukiman,”tambah salah seorang tokoh pemuda Jorong Kototinggi Kubang Balambak, Harlan Firmansyah menambahkan.

Benar saja, saat sampai di Jorong Kototinggi Kubang Balambak, kondisi jalan yang ditempuh tak kalah parahnya. Meski tak ada tanjakan danturunan tajam, namun kondisi jalan lebih banyak digengi air dan batu-batu kecil yang berusaha dijadikanpenutup lubang bagi warga. Jalan tanah bergelombang diperparah jalur-jalur bekas dilewati air.

Begitulah gambaran kondisi Jorong Kototinggi Kubang Balambak sebagai salah satu jorong yang sangat minim sentuhan pembangunan. Terutama untuk akses transportasi. Beruntung aliran listrik sudah menjangkau hingga kesudut-sudut jorong.

Baca juga :  Melihat Kondisi Korban Pasca Angin Kencang

Satu lagi yang membuat warga terisolasi terbatasnya akses untuk komunikasi. Jika membawa ponselpun ke Kubang Balambak, jaringan dan signal ponsel tak akan bisa didapat. Artinya tidak bisa menggunakan telepon genggam untuk berkomunikasi dengan dunia luar.”Pada titik-titik tertentu kadang bisa mendapatkan sinyal ponsel, tapi memang sulit,”tambah Kepala Jorong, Yori dibenarkan Yandri salah seorang pemuda di Kototinggi Kubang Balambak.

Pernah beberapa waktu sebelumnya warga dari Jorong Kototinggi Kubang Balambak mendatangi kantor DPRD dan Kantor Bupati Limapuluh Kota. Hasilnya, warga mendapatkan harapan untuk pembangunan.”Hanya saja hingga saat ini, kita masih pesimistis pembangunan akan tuntas bisa membebaskan jorong kami dari isolasi,”sebut Yori berharap pembangunan segera hingga tuntas.

Harga Komoditi Unggulan Mendera

Sementara keluhan petani di Jorong Kototinggi Kubang Balambak juga menggugah perasaan. Betapa tidak, petani yang umumnya menggantungkan hidup pada komoditi gambir, hanya bisa pasrah. Sebab hasil getah gambir yang dihasilkan dengan penuh keringat hanya dihargai Rp 18 ribu saja.

Perkebunan dengan lahan gambir yang luas, tak membuat petani sejahtera. Namun warga tak bisa berbuat banyak, pekerjaan sebagai petani gambir harus tetap harus dijalani.”Apalagi yang harus kita garap, hanya gambir lahan kita yang ada disini. Harganya hanya Rp 18 ribu perkilo,”ucap salah seorang petani, Paktuo, di Jorong Kototinggi Kubang Balambak, akhir pekan lalu.            

Petani lainnya menambahkan, komoditi lain yang bisa digarap petani selain gambir hanya karet. Meski ada sebagian yang mencoba berkebun karet, hasilnya juga tidak bagus,”Ada karet disini, namun tidak bagus, getahnya tidak produktif untuk disadap, bahkan sangat kurang sekali. Ditambah lagi harga yang juga tak menjanjikan,”sebut petani lainnya.

Baca juga :  7,2 Kilogram Ganja Panyabungan Dimusnahkan

Petani di Kototinggi Kubang Balambak juga memiliki tanaman sayuran dan padi. Hanya saja kesulitan pada akses transportasi untuk mengangkut pupuk dan hasil. Jika mengandalkan pupuk dari bahan kotoran sapi tidak mencukupi, sehingga perlu tambahan kotoran ayam dan pupuk anorganik. Lagi-lagi kendalannya akses transportasi yang sulit.

Miliki Potensi Wisata Lubuak Bulan

Memiliki potensi wisata, namun warga Kototinggi belum melihat hal itu sebagai penunjang perekonomian saja. Sebab yang paling utama adalah akses transportasi yang lancar.

“Pariwisata mungkin akan menjadi salah satu sumber menggeliatkan ekonomi masyarakat, namun jika kondisi jalan tak bisa dilewati, siapa yang akan datang kesini. Paling hanya pecinta alam, penikmat olahraga ekstrim seperti trabas dan offroad saja,”sebut Harlan yang mengaku bosan dengan janji-janji pemerintah sebelumnya.

Jorong Kototinggi Kubang Balambak memang memiliki sebuah air terjun yang unik yang disebut warga dengan air terjun Lubuak Bulan. Air terjun mengalir dari pencak bukit dan terjun menuju sebuah lubang yang akhirnya tak terlihat. Namun pemandangannya bisa dinikmati dari goa yang ada di dinding perbukitan.

“Saat ini, jalan kita sudah dibangun menggunakan dana desa sebesar Rp 200 juta, tentunya hanya bisa membuka badan jalan saja. Jalan sepanjang 6 kilometer itu tak akan sanggup dilapisi rabat beton atau aspal dengan dana desa tentunya. Perjuangan kita masih panjang,”pungkas Kepala Jorong Kototinggi Kubang Balambak, Yori.(m)

loading...