Normalisasi Batang Maek

  • Whatsapp

Limapuluh Kota, NNews–Rawan terjadi banjir, kekhawatiran Kecamatan Pangkalan sedikit berkurang. Sebab aliran Batang Maek yang kerap meluap perlahan mulai ditata dengan pengerukan dan pemasangan baronjong dalam program normalisasi dikawasan yang dinilai rawan. 

Meski resiko terjadinya banjir saat intensitas hujan tinggi mungkin saja terjadi, namun sejumlah titik sejak 2017-2018 lalu, perlahan sudah mulai dibenahi. Sehingga penyebab banjir akibat tumpukan sedimen dan hambatan aliran sungai akibat batu besar, teratasi. 

Bacaan Lainnya

“Setidaknya sudah mampu mengurangi kekhawatiran kita dan masyarakat terhadap banjir yang merap melanda, Nagari Pangkalan, Kecamatan Pangkalan Koto Baru. Tentunya kita sangat berharap penataan maksimal sepanjang aliran sungai nantinya,”ucap Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Limapuluh Kota, Yunire Yunirman kepada NNews, Senin(27/1) pagi.

Yunire menyebutkan program normalisasi sungai melalui anggaran Balai Wilayah Sungai Sumatera V mengganggarkan sebesar Rp 19 miliar   ditahun 2018 lalu.”Sekitar Rp 19 miliar ditahun 2017/2018 lalu. Kita berharap kedepannya Batang Sinamar juga bisa mendapatkan anggaran untuk bisa menata aliran sungai,”harap Yunire Yunirman menambahkan.

Selain normalisasi, batu besar yang diduga sebagai penghambat kelancaran air sungai, sudah diledakkan. Hanya saja memang masih ada yang tersisa, sehingga kedepannya perlu dituntaskan jika masih mengganggu kelancaran aliran air dan menjadi penyebab banjir. 

Lebih jauh disampaikan Yunire, tidak hanya Batang Maek, aliran Batang Sinamar yang cukup panjang melintasi pemukiman di Limapuluh Kota, juga butuh dilakukan normalisasi. Sehingga sungai yang kerap meluap disejumlah titik bisa diatasi.”Kita tengah berupaya mengusulkan normalisasi, sebab sejumlah titik di sepanjang aliran Batang Sinamar dan sejumlah aliran sungai lainnya, kerap terjadi banjir,”terang Yunire.

Mengalir dari Kecamatan Harau hingga Lareh Sago Halaban, sejumlah titik kerap terjadi banjir. Sementara saat ini aliran Batang Agam dari Kabupaten Agam yang bermuara ke Batang Sinamar sekarang alirannya sudah kian lancar.”Sehingga perlu ditampung dengan aliran sungai Batang Sinamar yang lancar pula seharusnya. Sehingga debit air yang tinggi tidak menyebabkan luapan hingga ke penukiman atau lahan pertanian,”analisa orang nomor satu di Dinas PUPR Limapuluh Kota ini.

Terpisah, Camat Pangkalan Koto Baru, Zulkifli Lubis menyebutkan, setidaknya upaya normalisasi sungai memang sedikit mengurangi kekhawatiran akan terjadinya banjir. Namun jika intensitas hujan tinggi, tentunya masih tinggi resikonya terjadi banjir.

“Namun kita tetap lakukan koordinasi dengan petugas pintu air PLTA Koto Panjang. Jika curah hujan tinggi dan debit air meningkat, kita minta pintu air PLTA di lepas,”ucap Camat Pangkalan Koto Baru, Zulkifli Lubis, Senin malam. 

Kontras dengan analisa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Limapuluh Kota yang disampaikan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Rahmadinol.  Sebab menurut analisa berdasarkan fakta kondisi lapangan yang ditemukan BPBD Limapuluh Kota, selisish ketinggian permukaan air Waduk PLTA Koto Panjang dengan penukiman di Pangkalan hanya beda tipis.

“Ketinggian Nagari Pangkalan hanya 118 meter diatas permukaan laut, sementara permukaan air waduk PLTA  Koto Panjang disaat debit air kondisi hujan sedang dijetiggian sekitar 82,5 mdpl. Artinya jika intensitas hujan tinnggi, ketinggian permukaan air waduk akan sama tinggi dengan ketinggian Nagari Pangkalan. Sehingga terjadilah banjir,”ucap Rahmadinol. 

Perlu Pengerukan Sedimen Waduk PLTA Koto Panjang

Sehingga kata Kabid Kedaruratan dan Logistik yang juga Manajer Pusdalops PB Limapuluh Kota ini, pengerukan sedimen Waduk PLTA Koto Panjang yang dibutuhkan untuk mengantisipasi terjadinya banjir.

“Sedimentasi didasar Waduk PLTA sangat tinggi, hal itu kami temukan saat melakukan survey ke PLTA Koto Panjang beberapa waktu lalu. Sementara pembuangan sedimentasi sepertinya tidak ada. Alhasil sedimentasi membuat permukaan air semakin tinggi,”tamvah Rahmadinol. 

Artinya, kata Rahmadinol, hal utama yang bisa dilakukan dalam jangka pendek adalah koordinasi dengan petugas pintu air Waduk PLTA Koto Panjang.”Jika air sudah mulai tinggi, pintu air sudah harus dibuka. Jika tidak Pangkalan akan terendam banjir. Kita sedang upayakan MoU kerjasama antar daerah Sumbar-Riau untuk hal ini,”pungkas Rahmadinol.(nn

Pos terkait