Ironi Ibu Tua Miskin yang Tinggal di Gubuk Tak Layak

  • Whatsapp


Luput dari Bantuan, Hidup dari Gaji Buruh Tani  

Masih saja masyarakat yang memiliki nasib kurang beruntung dengan ironi kehidupan yang butuh diperhatikan. Begitulah yang dihadapi Yurfianti, ibu berusia 60 tahun yang tinggal digubuk tak layak bersama seorang anaknya disudut Jorong Saut, Nagari Limbanang, Kecamatan Suliki.

Foto : Deni Asra (ketua DPRD Limapuluh Kota) berfoto didepan rumah ibu Yurfianti.

nagari-news.com–Limapuluh Kota

Rumah yang lebih layak disebut gubuk dengan dinding bambu dan atap seng lusuh yang lebih banyak bocornya dengan lantai tanah dilapisi plastik terpal bekas.

Bacaan Lainnya

Begitulah kondisi rumah Yurfianti yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani.

Tak terlhat kabel  listrik,  apalagi bohlam sebagai penerangan dirumah ini. Sementara Yurfianti memiliki anak satu-satunya yang tengah bersekolah. Anaknya sekolah di salah satu pesantren di Padangjopang, nagari tetangga.

Ruangan gubuk tanpa sekat, menjadi ruangan tamu, ruang makan sekaligus tempat tidur bagi keluarga ini. Tinggal dan menjadi orang tua tunggal, beban ibu tua ini sungguh luar biasa dengan penghasilan sebagai buruh tani.

“Tidak tersentuh bantuan seperti PKH dan bantuan seharusnya dari pemerintah, menjadikan ibu ini merasakan betapa beratnya hidup yang dihadapi. Kendati tak mengeluh, beban itu sudah kita rasakan,”ucap Ketua DPRD Limapuluh Kota, Deni Asra saat melihat langsung kondisi rumah dan kehidupan ibu Yurfianti, Sabtu(8/2) akhir pekan ini.

Jorong Saut juga merupakan dengan akses jalanyang buruk di Limapuluh Kota, kondisi ekonomi masyarakat masih ada yang berada jauh dibawah garis kemiskinan. Sehingga menjadi perhatian serius Deni Asra sebagai Ketua DPRD Limapuluh Kota.

“Tidak tersentuh bantuan, kita berharap ibu Yurfianti mendapatkan setidaknya bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH) dari pemerintah, kemudian bantuan lainnya untuk membantu ringankan beban oirang tua ini,”sebut Edi  Naboy salah seorang warga kepada Padang Ekspres.

Menurut informasi masyarakat, memang tidak tersentuh bantuan. Bahkan saat bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni, Yurfianti juga belum bisa mendapatkan, meski sempat diusulkan.

“Persoalannya, karena dinilai kejelasan status tanah, padahal sudah diberikan pihak keluarga untuk dipakai,”sebut Edi lagi.

Sementara melihat kondisi itu, Deni Asra berharap Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota menjadikan rumah tempat tinggal ibu Yurfianti menjadi salah satu prioritas untuk dibangun.

Sehingga tidak lagi tinggal digubuk reot yang atapnya bocor seperti ini,”sebut politisi muda Gerindra ini, kemarin.

Tinggal digubuk reot bersama anaknya, Yurfianti sangat khawatir seperti apakah nanti kehidupan anaknya kelak ketika dirinya sudah tiada.

Gaji buruh yang kadang diajak bekerja dan kadang tidak ini, rata-rata hanya menghasilkan uang sekitar Rp 100 hingga Rp 200 ribu saja setiap pekannya.

“Rasanya sangat jauh dari rasa cukup, mudah-mudahan kedepan Pemkab Limapuluh Kota melihat ini sebagai sebuah prioritas untuk dibantu, rumah maupun bantuan lainnya untuk meringankan bebannya,”harap Deni.

Tidak hanya ibu Yurfianti, Deni Asra juga berharap dengan semangat membangun dan gotong royong yang tinggi, Jorong Saut bisa mendapatkan bantuan pembangunan yang lebih baik nantinya dari Pemkab Limapuluh Kota.

“Semoga semua kebutuhan mendasar di Jorong Saut menjadi perhatian pemerintah daerah kedepan,”tekad Deni Asra yang akan berupaya memperjuangkannya.(***)    

Pos terkait