Cerpen : Air Mata Menjelang Pernikahan

  • Whatsapp
Air Mata Menjelang Pernikahan
Nagarinews.com : Cerpen by Majick

Bisa dihitung dengan jari. Hanya tinggal satu minggu lagi saja menjelang hari pernikahanku dengan Mirna, seorang gadis yang juga sekampung denganku.
Semua persiapan dan keperluan untuk helat pernikahan telah dipersiapkan, baik itu surat menyurat, dan bahkan bagi saudara dan teman-teman yang jauh pun telah dilayangkan undangan

Pada jam 11:57, aku menerima panggilan telpon seluler dari sahabatku. Dari ujung sana sahabatku dengan terbata megabarkan, bawah telah terjadi kecelakan tunggal pengedara bermotor yang dialami oleh Mirna, yang tak lain adalah calon istriku.

Bacaan Lainnya

Waktu mendengar kabar itu badanku menggigil pikiranku kacau dan hatiku sedih, panik tak menentu, rasanya semua tulang-tulangku remuk.
Katanya lagi, sekarang Mirna telah dilarikan kerumah sakit umum terdekat.
Dengan menenangkan pikiran sejenak, kemudian aku pun lasung meluncur ke rumah sakit. Sesampai disana aku disuruh menunggu oleh dokter diruang tunggu.

Dengan rasa was-was aku belum mau beranjak dari ruang tunggu itu meskipun waktu besuk pasien tinggal setengah jam lagi. Untuk membuat hatiku tenang, aku mencoba menulis sebuah status di dinding fbku . Tiba-tiba, “Keluarga seorng suster keluarga Mirna ditunggu di ruang HCU.”

Jantungku langsung berdegup dengan kencang dan tak beraturan. Nafasku menjadi sesak dan hatiku bergetar. Rasanya campur aduk. “Ada apa, Dok?” tanyaku langsung pada seorang dokter yang sudah menunggu di dalam ruangan HCU.

“Bapak keluarga pasen ?”
“Iya, Dokter. Dia calon istriku. Bagaimana dengan kondisinya dokter?”

“Bapak, sebelumnya kami minta maaf. Saat ini perlu kami jelaskan bahwa kondisi adik bapak semakin menurun. Tadi tingkat kesadarannya masih di level 3, saat ini berada di level 2. Tensinya turun dengan drastic, mungki ini akibat benturan di kepalanya. Ditambah lagi dengan denyut nadinya yang tidak beraturan.”
Dokter itu masih berusaha menjelaskan keadaannya tapi aku sudah menangis duluan. Hatiku semakin cemas mendengar perkataan dokter.

“Dokter, boleh saya melihatnya sebentar?” tanyaku dengan gemetar.

“Mirna, Mirna masih dengar uda? Dek Mirna harus semangat,” ucapku dengan suara bergetar.

Kupegang wajah dan kepalanya, saat itu masih terasa hangat. Tetapi hatiku semakin ciut ketika aku meraba bagian tubuhnya yang lain. Semua terasa dingin bagaikan es, kaki dan tangannya sudah membiru.

Aku menangis tersedu-sedu. Seorang perawat memintaku supaya keluar dulu karena belum jam besuk. Semua keluarga pasien yang menunggu di luar ruangan itu memperhatikan aku.

Beberapa diantaranya mereka bertanya ada apa? Tapi aku hanya menangis. Aku mehubungi keluargaku
Aku menyampaikan apa yang diberitahukan oleh dokter.

Beberapa menit kemudian jam besuk pun tiba. Aku dan colon kakak iparku masuk duluan. Kakak iparku juga berusaha memanggil-manggil nama calon istriku tetapi tetap saja tidak ada respon.

Badannya semakin terasa dingin. Nafasnya juga bertambah berat. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali menangis.

Aku tidak tahan melihatnya, lalu aku keluar. Aku melihat kedua orang tua calon istriku sudah menunggu di ruang tunggu.
“Bagaimana keadaannya?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menangis. Lalu kedua orang tua Mirna masuk untuk melihat kondisinya.

Sampai sore kami semua masih berada di rumah sakit. Tak satupun diantara kami yang mau beranjak.
Kakak iparku menyuruh aku untuk pulang ke rumah. Aku pulang sebentar dengan perasaan campur-aduk. Sehingga aku kembali ke rumah Sakit.
“Aku tidak mau tidur di rumah malam ini.”
Malam itu kami bertiga menunggu di rumah sakit. Aku, ayah Mirna, dan ibu Mirna. Aku duduk di kursi sambil tiduran. Saat itu sudah pukul 11 malam.

Dokter kembali memanggil kami. Mereka memberi tahu lagi bahwa keadaan calon istriku semakin memburuk. Aku sudah tidak bisa mendengar lagi dengan jelas karena dari tadi terus-menerus menangis.

Saat diizinkan dokter untuk melihat, aku sudah tidak berani menyentuh badannya yang semakin dingin. Aku berteriak dengan suara bergetar.

“Tuhan, kalau memang masih ada Mu’jizat untuk calon istriku.

Cerpen by Majick
Nagarinews.com
#Iklan tampil berdasarkan history pencarian anda di google
loading…

Pos terkait