Posting Agar Pejuang Medis Tertular Corona, Pedagang Diciduk

  • Whatsapp

Ngaku Pernah Alami Layanan Medis Kurang Baik

Payakumbuh, NNews–Seorang pedagang warga Nagari Mungo, Kecamatan Luak, Kabupaten Limapuluh Kota berinisial, D alias Ade, 45, diciduk Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Payakumbuh, Senin(13/4). Tersangka ditangkap polisi usai memposting tulisan yang dinilai mengandung ujaran kebencian terhadap profesi Dokter dan Perawat.

“Tersangka dijerat Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) atau Undang-undang nomor 19 tahun 2016. Karena memposting sebuah tulisan berbau sara pada akun facebook “nola.bundanyaasraf” yang diketahui milik istri tersangka tersebut, dikategorikan sebagai pelanggaran UU ITE,”ungkap Kapolres Payakumbuh, AKBP Dony Setiawan, Rabu(15/4)

Bacaan Lainnya

Dalam postingan pada akun facebook tersebut, dituliskan “Semoga makin bnyk Dokter dan Perawat jadi korban Corona ko,, dan smkin bnyk urg yg menolak untuak dmakam kan di bumi alloh ko,,sbb ksombongan itu pkaian setan,, bukan pkaian manusia,,,jadi kalau setan tu mati,,ndk Ado hak nyo bkubua d bumi Allah ko doh,,” begitu tulisan di akun facebook tersebut.

Postingan menggunakan bahasa Minang tersebut, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kira-kira maksudnya”Semoga semakin banyak dokter dan perawat jadi korban Corona ini dan semakin banyak orang yang menolak untuk dimakamkan di bumi Allah ini, sebab kesombongan itu pakaian setan, bukan pakaian manusia, jadi jika setan itu mati tidak ada haknya dikuburkan dibumi Allah“.

Kontan saja, postingan yang memojokkan profesi Dokter dan Perawat tersebut, memancing reaksi dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Payakumbuh. Sehingga postingan yang dikomentari hingga 6,6 ribu dan 3,4 ribu Kali dibagikan itu, dilaporkan.

Mengetahui postingan berbau sara itu beredar di dunia maya pada 12 April lalu, para pejuang medis yang tergabung dalam organisasi PPNI dan IDI melaporkan peristiwa tersebut ke Mapolres Payakumbuh.

Postingan tersebut dibuat tersangka menggunakan akun milik istrinya pada, Jumat(10/4) sekitar pukul 20.00 WIB. Hanya selang dua hari saja postingan tendensius itu, membuat pemilik akun populer, sebab mendapat ribuan tanggapan dan juga dibagikan ribuan netizen.

Ditambahkan Kapolres, terkait postingan dinilai telah dilakukan penyebaran informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan pencemaran nama baik dan menimbulkan ujaran kebencian atau permusuhan individu atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas SARA.

“Dalam penghinaan dan ujaran kebencian itu, ditujukan agar masyarakat menolak pemakaman dokter dan perawat yang terkena wabah Corona. Barang bukti tindak kejahatan UU ITE ini, diamankan satu unit HP merk Vivo Y 53 warna Gold, kemudian, screnshoot postingan akun facebook an. “nola.bundanyaasraf” dan alamat email atas nama nola.bundanyaasraf,”ucap Kapolres, Dony Setiawan didampingi Kasat Reskrim Iptu Ilham Indarmawan, kemarin.

Kelabui Polisi

Setelah postingan tersebut viral, tersangka kemudian ke Polsek Luhak, Polres Payakumbuh berusaha untuk mengelabui petugas Polsek dengan memberikan laporan palsu bahwa akun facebook istrinya yang digunakan untuk memposting ujaran kebencian tersebut telah dihack orang lain.

Lalu tersangka berfoto di Polsek Luhak dan memposting fotonya di Polsek Luhak dengan keterangan “lagi d Polsek, melaporkan bhwa fb istri saya dbajak,, dan saya slaku kluarga(suami) mhon kpada tman fb smua untuk mmaklumi atas kjdian yg mnimpa istri saya, krna itu bukan istri saya yang komentar, tp justru pihak yang tidak bertanggung jawab, trimakasih,” begitu tulis sang tersangka lagi.

“Berdasarkan penyidikan yang dilakukan terhadap tersangka, akirnya mengakui perbuatannya. Tersangka mengakui perbuatannya menggunakan akun facebook istrinya memposting ujaran kebencian,”terang Dony Setiawan.

Tersangka disangkakan telah menggunakan akun facebook istrinya kemudian mentransmisikan informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan atau pencemaran nama baik terhadap profesi dokter dan perawat. Sehingga dinilai akan menimbulkan kebencian atau permusuhan individu atau kelompok masyarakat tertentu.

“Ujaran kebencian atau permusuhan kepada profesi dokter dan perawat serta membangun opini dan mengajak masyarakat secara umum dan umat islam secara khusus untuk tidak menerima pemakaman dokter dan perawat yang menjadi korban Corona”terang Kapolres lagi.

Sementara berdasarkan pengakuan tersangka kepada polisi, hal tersebut dilakukan karena pernah mendapatkan pelayanan tidak baik. “Tersangka mengakui hal tersebut dilakukan dengan alasan pernah mendapatkan pelayanan medis yang kurang baik di di salah satu Rumah Sakit di Kabupaten Limapuluh Kota,”terang Kapolres.

Saat ini tersangka mendekam ditahanan polisi dengan persangkaan melawan Pasal 45A Ayat 2 jo Pasal 28 Ayat (2) Atau Pasal 45 Ayat 3 Jo Pasal 27 Ayat 3 , UU ITE No 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.” Ancaman pidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak Rp 1 miliar,”pungkas Kapolres.(nn)

#Iklan tampil berdasarkan history pencarian anda di google
loading…

Pos terkait