Bulan Suci, Wabah, dan Ketulusan Puisi

  • Whatsapp

Esai : Bulan Suci, Wabah, dan Ketulusan Puisi

by Irman Syah – Nagarinews.com

Suara, gema, gemuruh, dan debar bahagia mulai terasa meski was-was dan cemas pun datang menjalari diri. Syair-syair dengan syiarnya akan selalu mengantarkan manusia ke maqomnya yang sempurna. Ramadhan datang selepas Sya’ban dengan penuh ketulusan dan pada nisfunya kita pun berusaha untuk saling bermaafan.

Bulan suci itu bulan penantian, bulan pengampunan semua kesalahan dan dosa kehidupan, disengaja atau pun tidak dalam kenyataan hidup manusia muslim.

Bacaan Lainnya

Bahagialah wahai jiwa, tunaikan kewajiban yang telah wajib sedari dulu bagi orang-orang sebelumnya. Bukankah ketenangan dapat mengalir bila rasa dan keyakinan selalu terpelihara. Jangan riasaukan apa-apa bila tak berpucuk kepastian. PadaNya, kita berserah dan selalu mendamba keutuhan. Ruang jiwa, syair-syiar yang mengelana di dalamnya, teruslah senandungkan dengan bahasa yang nyata.

Mari kembali mendengar debur dada, berkaca ke alam nyata: seberapa jauh perjalanan, seberapa pula hasil nilai hidup, berapa sungguhkah keyakinan? Semua itu pasti kan terjawab bila hati selalu terjaga atas dasar dan ukuran nilai kesucian. Andai mampu berkaca diri dan selalu bertulus hati tentu akan selalu merindukan sasana bulan suci. Padanya kelengkapan dan kekuatan manusia akan berjalan dengan sempurna.

Cuma sekali setahun Ramadhan mengunjungi manusia dengan sayap kecintaannya. Bulan suci penuh rahmah dan ampunan akan siap sedia mengantarkan kita ke langit mulia yang tak bertara. Alangkah bahagia, alangkah senang, alangkah rasa ini menjadi sebuah keutuhan atas kebutuhan hidup yang menjadikan diri manusia bertakwa. Kata-kata takkan mampu mengungkapkan bahasa dengan sepenuhnya kecuali do’a.

Semoga di bulan suci yang datang ini kita selalu dihiasi mimpi penuh arti. Mimpi hidup dan mati. Kalau hati mampu dijaga, tentu surga takkan ke mana. Di dalamnya karya bertahta dengan nilai religious yang mengemuka. Karya demikian pasti berlandaskan pada estetika yang sempurna: dunia akhirat di genggamNya.

Bangun dan julangkan terus puncak-puncak kata, sebutlah mahkota bahasa karena lahirnya begitu nyata. Semua terukir dengan pahatan yang mengena sesuai ukurannya; garis dan nilai kan sempurna. Karya yang mampu menggugah jiwa pada kesadaran atas kekecilan makna diri pada pencipta. Kebenaran kata akan menjadi keyakinan tak bertara dalam pemahaman dunia. Dan akhirat pun tentu dikandungnya. Lengkaplah sudah semuanya andai itu selalu mengacu pada yang baqa.

Wahai penguasa alam semesta, jadikanlah hati ini lapang dan dapat menjadi tempat tumpangan para nestapa yang ingin pulang ke negerinya: melayari hidup demi kepentingan pencinta yang selalu rindu singgasana yang Mahamulia. Puisi hati akan mengangkasa, menjangkau segala duka dan menjadikannya bahagia tak berkira.
Apalagi masuk puasa, kata-kata kian tajam bermakna: apa diminta tentu dikabulkan-Nya.

Syair syiar di bulan suci, Ramadhan yang selalu dinanti, akan membersihkan diri dari segala daki-daki. Gemuruh jiwa menyambut puasa akan selalu menjadi kata, menjadi lirik, menjadi syair, menjadi puisi, menjadi bahasa bagi pemilik bahasa itu sendiri. Mengelana menembus sukma, mengantarkan keluh yang teramat kesah tentang wabah yang membahana di dunia kepada Penguasa Alam Semesta.**

Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga kita semua mampu mencapai taqwa.

Rohmantik

Baca Juga :

Pos terkait